KRITIK SARAN ANAK JALANAN

 

Menanggapi sinetron yang ada, saya ingin membahas sinetron yang baru-baru ini mencapai episode 100. Sinetron ini berhasil menyedot perhatian masyarakat. Dan juga tak bisa dipungkiri bahwa semua golongan, dari anak-anak sampai orang dewasa pun menyukainya. Mulai adegan motor balapnya sampai adegan cinta cinta annya. Yaps, Anak Jalanan yang tayang di RCTI.

Lagi-lagi RCTI menayangkan sinetron baru. Tapi dari semua sinetron yang ditayangkan, saya paling suka Aku Anak Indonesia. Mereka memaparkan kenyataan yang ada dan berhasil menampar muka saya berkali-kali. Ehheeeemmmm …. Oke, kembali ke Anak Jalanan.

Baik, dimulai dari judul. Anak Jalanan, dibaca saja sudah memiliki konotasi negatif. Ditambah dengan iklannya, ada sekelompok anak motor balapan di jalan. Pikiran saya langsung berasumsi, Anak Jalanan = Anak Geng Motor = Anak Nakal. Jadi, pikiran saya saat itu langsung berasumsi tidak pantas untuk anak-anak. Tapi ketika saya mengikuti episode demi episode, saya mulai tertarik. Konflik yang unik antara mantan pacar Boy, Adriana, yang jadi ibu tiri gebetannya, Reva. Tapi eitssss… tunggu.

Semakin hari saya tonton, jujur saya katakan, dengan teramat sangat, mohon maaf, saya tidak suka. Film ini menarik perhatian banyak anak kecil dengan adegan motornya, yang pasti semua anak-anak lelaki menyukainya. Nah, disinilah. Sinetron ini, menjual cerita cinta cinta an yang pasti tak pantas bagi anak. Mengemas cerita cinta dengan kemasan motor balap, yang pasti sangat menarik bukan? Ditambah lagunya yang tingkatannya saja sudah cinta mati. Mayoritas, anak didik saya di sekolah hafal betul lagu soundtracknya.

“Cintaku ini cinta mati .., mati matiaan aku pertahankan cinta …”

Mereka bernyanyi di sepanjang pelajaran berlangsung. Saya langsung menegur mereka untuk tidak menyanyikannya karena sedang pelajaran. Tapi mereka tetap saja bernyanyi. Jadi saya mengatakan bahwa itu lagu orang dewasa sementara mereka masih anak tujuh sampai delapan tahun.

Ketika saya masih bekerja di sebuah TK, ada anak didik saya yang bermain menirukan adegan cinta cintaan ala Boy sama Reva.

“Eh, pura-puranya aku jadi Boy. Terus kamu pura-puranya jadi Reva. Njuk cinta cintaan.” Saya langsung menegur mereka dan bertanya, “Emang cinta cintaan itu apa to?”

“Itu loh, yang kayak di Anak Jalanan, Boy sama Reva.” Jedueeer !!!

            Saya sebagai guru mereka, tentu menanggung beban moral yang tinggi. Tugas saya bukan hanya mengajar namun juga mendidik. Bukan menyampai materi dan merasa lega nilai mereka seratus, namun bertanggung jawab pula dengan moral dan etika mereka. Apalagi saya mendidik di sekolah islam. Yang jelas cinta cinta an macam itu tidak ada.

Saya mulai khawatir lagi. Jam tayangnya pas banget waktu adzan maghrib. Adik saya yang juga masih kecil pun tak mau ketinggalan barang lima menit untuk mematikan TV. Sudah ada Anak Jalanan, ya sudah. Maghrib pun di tanggalkan. Kecuali jika keluarga memaksanya. Jadilah ia sholatnya tidak ikhlas. Lalu bagaimana dengan anak didik saya. Apakah sama dengan adik saya?

Ketika orang tuanya di tegur, tapi anak-anak tetap saja masih nyanyi-nyanyi lagu itu sama ngobrolin si Boy dan Reva yang tadi malem gini lah gitu lah. Pusing. Tolong pihak sutradaranya, penulis skenario dan kawan-kawannya, bantu kami, para pendidik ini yang setiap hari menanggung beban moral anak didik kami yang tak sedikit pun pernah ingin menurunkan nilai rating kalian, dengan

  1. Ubah jam tayang.
  2. Kurangi adegan cinta cintaannya. Baik pemain Boy dan Reva maupun yang lain. Inikan sinetron. Bukan tempat biro jodoh. Ataupun tempat mojoknya si S sama N. Mau pacaran atau tidak, tolong, profesional. Saya bukan penggemarnya S ataupun haternya N. Maupun sebaliknya. (yang ini bukan buat bapak sutradara tapi pemainnya)
  3. Kurangi adegan-adegan anak yang berani bicara kasar dengan orang tua. Bagaimana pun kan si Adriana itu orang tuanya Reva. Kok dia berani sih. Sejahat-jahatnya Adriana, yang tetap, dia Ibunya.
  4. Menariknya sih adegan mamanya si Boy itu. Tapi kok centil banget. Mama gahoels. Anak didik saya sok sok an centil. Dengan tagline, ‘Coooocoook!’
  5. Si Boy itu kan anak pintar, baik, sholeh pula. Rajin ngaji dan sholat tak pernah ketinggalan. Saya rasa itu bagus. Tapi anak sholeh masak pacaran sih om sutradara?

 

Itu saja sih yang saya sarankan. Kalau ada lagi yang mau menambah saran, bisa ditaruh di kolom komentar. Kalau ada yang tidak setuju, katakan saja di kolom komentar tanpa bawa emosi anda. Bukan berarti saya benci sinetron ini. Hanya saja, bukankah lebih baik memberi saran dan keluhkan agar sinetron ini bisa lebih baik?

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. vhili says:

    Menurut saya sih krenn film aj(anak jlanan)ini.
    ia lebih di serukan lagi untuk acting nya. Smua para pemirsa dirumah pasti menanti action” yang memukau. Oia om sutradra di saat adegan dengan pemain disertakan lagu yg hits dn tepat. Dewa 19 menurut saya punya lagu” yang tepat untuk setiap karakter pemain. sekian terimakasih.
    Godjob ank jlanan.

    1. widyamif says:

      Memang pendapat orang beda beda. Memang ini bagus, membius semua orang termasuk anak. Namun ada beberapa nilai yang tidak baik jika hal itu ditangkap oleh anak tanpa filter yang bagus. Jadi mohon untuk lebih diawasi. Akan lebih baik kalau anak belajar saja. Jam jam tayang sinetron ini sangat rawan. Anak sebaiknya diajak mengerjakan PR.

  2. Pepep R. Suhatsyah says:

    1. Ma’af, apakah sudah tidak ada orang Muslim yang baik ? Kok orang Non Muslim bisa masuk Masjid dan sholat dan mengumandangkan adzan ? 2. Si Boy itu dalam cerita juara MMA, kok dibius sama si Bella, langsung pingsan, tidak ada reaksi bela diri ? 3. Aneh memang, cerita ini alay banget, urusannya cewe melulu. 4. Akhirnya, cerita ini cukup membosankan…

    1. widyamif says:

      Benar sekali. Sebenarnya cerita ini tidak mendidik namun disamarkan.

  3. bung says:

    Tidak Ada makna yg bisa di ambil dari flem aj …. Mlh bikin merusak bagi yg nonton apalagi bagi anak2

  4. vhili says:

    Ya sekarang aj udh jdi kenangan di RCTI.. malah anak” didik sutradara nya main di SCtV mungkin itu slah stu jln nya agar mreka bisa mnebus perhatian pemirsa kembali… god job RCti n SCtV bergabung/kolaborasi
    apalagi dengan kedatangan nya Stefan w. Psti bisa memukau para pemirsa kembali. Cuma ya satu gabungin lagi mreka sperti di Film AJ trutama krabat”nya. Pasti rame lagi

  5. vhili says:

    Sangat brharap pk dirut dn pk sut.
    Lebih dn lebih bisa menuangkan inafirasi nya dlam cerita skenario nya sehingga dpat memukau kembali pemirsa.
    Sudah punya senjata nya yaitu pemain” yg bgus brkarakter. Tinggal peluru nya : insfirasi spenuh hati.
    Gdjob.

  6. Archie senna says:

    Mending banyak in produksi lagu” untuk anak – anak aja lebih mendidik , miris lo liat bocah jaman sekarang yang tau nya cuman cinta” aja emang kalau gede pada mau jadi pujangga cinta 😂😂

    1. widyamif says:

      Well, kita yang lebih dewasa yang harus lebih waspada dalam membimbing anak-anak dan generasi mendatang. Kitalah filter mereka, ahaha. Terimakasih sudah mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s