Berparodi Dalam Usia

on

 

Waktu mendewasakan kita.” Begitulah kira-kira pepatah bersemboyan. Secara harfiah, artinya, semakin bertambah umur seseorang, semakin dewasalah ia. Apakah benar begitu? Agaknya hal tersebut hanyalah wacana belaka. Buktinya dari beberapa kasus yang terjadi di masyarakat, tak sepenuhnya sesuai. Contoh saja, manusia lahir memasuki fase anak-anak dengan sifat keegoannya, remaja dengan pubertasnya, dewasa dengan kebijaksanaaannya dan semakin bertambahnya umur tak menghindarkan manusia dari akhir fase, yakni tua. Namun jika kita benar-benar jujur, apakah orang tua di sekitar kita semakin dewasa atau bijak dalam bertindak? Bukankah semakin tua seseorang, maka ia akan kembali ke fase anak-anak dengan keegoan dan kepikunannya? Dan bagaimanakah seseorang bisa dikatakan sudah dewasa?

Indikator kedewasaan seseorang, dapat dilihat dari tindakan, sikap, dan tutur kata. Ia akan lebih arif dalam bertindak, bijak dalam berkata, serta lebih fleksibel dalam menghadapi tantangan karakter orang disekitarnya. Manusia dikatakan dewasa apabila ia mampu bersosialisasi dengan berbagai kondisi struktur masyarakat. Tak sekedar berani bersosialisasi saja, namun manusia dewasa juga harus penuh dengan pertimbangan. Ia akan mempertimbangkan sikap yang bijak dalam menghadapi berbagai kalangan usia di masyarakat.

Pada level intelektualitas, manusia yang dewasa sudah tidak diragukan lagi. Mereka harus mampu merumuskan perdamaikan, menjabarkan klasifikasi masyarakat, bahkan mempabrikasi konsep toleransi. Dan yang paling utama adalah memanfaatkan kepandaiannya agar berguna di masyarakat kelak. Lalu apa saja faktor yang mempengaruhi kedewasaan seseorang?

Lingkungan adalah faktor utama pembentuk karakter individu. Lingkungan adalah tempat sang individu tersebut menjalin hubungan dan membentuk karakter sang empunya. Lingkungan pulalah yang membentuk faktor kognitif, afeksi dan psikomotorik seseorang. Berdasarkan teori perkembangan empiris, John Locke mengatakan bahwa, perkembangan seorang anak tergantung pada faktor lingkungan. Jadi lingkungan berpengaruh terhadap sikap dan tindakan sang anak, yang mana dewasa nanti mengarahkan sang anak untuk berkepribadian seperti apa. Sekali lagi, lingkungan adalah faktor penentu seseorang kelak.

Selanjutnya, kepada inti wacana, apakah seseorang yang semakin tua bisa dikatakan bertambah dewasa? Tentu tidak. Tua dan dewasa adalah dua hal yang berbeda. Seseorang dikatakan tua apabila ia sudah memenuhi karakter secara biologis. Kulit keriput, rambut memutih, dan tentu saja pelupa. Seperti yang sudah saya jabarkan di atas. Setiap individu akan kembali pada fase anak-anak. Bukan fase anak-anak secara harfiah. Namun karakter keegoan sang anak untuk diperhatikan, melekat kembali. Dominannya mereka selalu lupa atau pikun. Ini wajar terjadi pada orang tua, dan bukan sesuatu yang patut untuk diperdebatkan.

Tidak semua orang tua memiliki karakter begitu. Justru ada yang semakin bijak, semakin kencang beribadah, dan semakin-semakin yang lainnya. Sayangnya, semakin tua seseorang tak menjamin semakin dewasanya ia. Kedewasaan harus disertai penalaran yang bagus, daya ingat tinggi, serta kepandaian dalam berpikir dan bertingkah laku. Sedang orang yang semakin tua tidak bisa mempertahankan hal tersebut. Sebagai contoh, seorang nenek lupa bahkan beliau sedang kencing. Akhirnya beliau kencing sambil berdiri.

Contoh lain, seorang nenek, seusai makan minta diambilkan lagi. Padahal ia baru saja makan. Ketika diingatkan sudah makan, beliau malah marah karena menganggap anaknya tidak mau mengurusi beliau lagi. Seorang kakek menyuruh cucunya mengambilkan minum. Tapi mengira cucunya diam saja dan tidak mau karena tidak mendengar jawaban sang cucu. Akhirnya mengadulah sang kakek pada anaknya. Biasanya, kasus di masyarakat, mereka lebih memilih memiliki rumah terpisah dengan orang tuanya. Karena sering terjadi kesalahpahaman dengan orang tua atau mertua menjelang ujung umur mereka seperti contoh-contoh diatas. Bahkan Nabi pun menganjurkan untuk membangun keluarga yang terpisah dengan orang tua mereka.

Contoh diatas hanya sekelumit cerita yang bisa membuktikan bahwa, semakin tua seseorang tak menjamin kedewasaan. Namun anda tak perlu risau menjelang tua. Tak semua orang tua menjengkelkan di akhir umur mereka. Dan barangkali anda adalah orang termasuk golongan mereka. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s