POTRET PENDIDIKAN INDONESIA MASA KINI: SEBUAH BALADA KISAH “SEKOLAH ITU CANDU”

on

Alkisah, pada suatu hari terlihat Sukardal meletakkan telepon dan segera mulai memencet-mencet tombol keyboard komputernya. Tiga, lima, tujuh, sembilan, sepuluh menit kemudian, dia sudah menemukan banyak tambahan informasi baru di layar monitor. Tidak sampai sejam kemudian, dia sudah menggenggam setumpuk kertas hasil print out komputernya. Cukup tebal untuk menghabiskan waktunya hingga sore itu untuk membaca dan membuat banyak catatan-catatan.

Lepas makan malam, Sukardal dan beberapa tetangga terdekat sudah berkumpul di balai pertemuan RT mereka yang sekaligus juga berfungsi sebagai perpustakaan kecil, ruang diskusi, bahkan sebagai tempat minum-minum bersama. Ketika Sang Profesor tiba, diskusi langsung dimulai, sesekali diselingi pemutaran beberapa potongan gambar yang telah direkam oleh Sukardal. Menjelang larut malam, mereka sudah tiba pada beberapa pemahaman dan kesimpulan pokok. Tiba-tiba Sukardal menyela.

“Siapa yang berminat ikut saya ke sekolah esok pagi?”

“Sekolah? Belajar apa?”

“Menyilang labu jenis baru, temuan saya sendiri.” jawab Sukardal.

“Dimana?” seorang ibu setengah baya menyambung.

“Ya, di sekolah saya. Diaman lagi? Eh, mau ikut nggak Prof?”

“Boleh juga.” Sambut sang guru besar.

Esoknya, mereka semua beserta beberapa orang pemuda dan remaja lainnya, berkumpul lagi di kebun sayur di tanah pertanian di belakang rumah Sukardal. Kali ini, sang Profesor yang justru paling banyak bertanya, membuat catatan-catatan dalam buku sakunya, dan menawarkan jasa untuk membantu Sukardal jika ingin menulis tentang labu-labu jebis baru hasil temuannya itu. Bersama yang lainnya, dengan peluh yang mulai bercucuran dan kulit wajah yang terbakar sinar matahari, pakar sejarah kebudayaan itu asyik mendengarkan penjelasan dari Sukardal bersama beberapa orang tetangganya sambil mencicipi jus labu bikinan nyonya Sukardal dan memeriksa bibit-bibit labu baru yang siap ditanam.

Ya, sehari-hari, Sukardal memang Cuma seorang petani biasa.

Itu, pada tahun 2222!

Begitulah, cuplikan kisah “Sekolah Masa Depan” yang pernah ditulis Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah Itu Candu. Lantas, apa hubungan tersebut dengan potret pendidikan indonesia saat ini? Roem Topatimasang seakan-akan ingin mengajak kita menciptakan sekolah masa mendatang. Lantas, ada apa dengan pendidikan indonesia saat ini?

Dikisah tersebut menceritakan bahwa Sukardal yang notabene hanyalah petani biasa saja namun juga mampu menjelaskan dengan cerdas mengenai ilmu dan pengetahuan yang dia miliki kepada seorang profesor kebudayaan. Sukardal juga mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan kemodernan dalam menjajaki ilmu pengetahuan. Tentunya hal ini sebagai kemajuan bahwasanya masyarakat sudah teredukasi. Menjadi kaum yang terdidik bukan hanya hak bagi para pemegang gelar, namun petani biasa seperti seorang Sukardal pun mampu. Ironisnya, hal itu bukan masa kini, namun pada tahun 2222.

Bagaimana potret pendidikan Indoensia masa kini?

Secara statistik, kita mungkin masih ingat bahwa mengenai data Indeks Pembangunan Pendidikan Untuk Semua atau Education For All di Indonesia menurun. Jika pada 2010 lalu Indonesia berada di peringkat 65, tahun 2011 merosot ke peringkat 69.   Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011:  The Hidden Crisis, Armed Conflict And Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York, Senin (1/3/2011), Indeks Pembangunan Pendidikan atau Education Development Index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia.

Banyak hal yang menyebabkan kondisi pendidikan di Indonesia terpuruk seperti ini. Sistem pendidikan di Indonesia yang tidak stabil, anggaran pendidikan yang kurang tepat sasaran, kualitas sumber daya pengajar yang kurang diperhatikan, serta Infrastuktur pendidikan yang belum memadai menjadi penyebab selanjutnya. Jika Indonesia hanya pulau Jawa, tingkat pembangunan infrastuktur bidang pendidikan bisa dibilang bagus. Akan tetapi, Sulawesi, Sumatra, Irian Jaya juga merupakan bagian dari Indonesia. Sudahkah infrastuktur pendidikan di sana memadai? Hal ini juga berdampak pada ketidakmerataan tingkat pendidikan di Indonesia.

Jika kita mengetahui bahwa pendidikan Indonesia kurang merata, lalu apa yang bisa kita lakukan? Solusi seperti apa yang bisa kita berikan? Apakah hanya sekedar pengetahuan dan wawasan saja, bahwa pendidikan Indonesia kurang merata?

Salah satu tujuan negara yang tertuang dalam UUD 1945 bahwa “…mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia….”. Harus kita yakini bahwa kecerdasan generasi bangsa menjadi tanggung jawab negara. Negara diharuskan terlibat penuh dalam pencerdasan kehidupan bangsa. Bisa dikatakan, negara yang baik adalah negara yang mampu menyelenggarakan pendidikan dengan layak. Hal tersebut yang menjadi tolak ukur maju dan berkembangnya sebuah negara.

Untuk itu sangat relevan, jika kita mengatakan pendidikan adalah amanah konstitusi yang harus dilaksanakan oleh negara. Namun, apa hanya negara yang berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia? Dimana peran kita sebagai mahasiswa?

Ega Jalaludin mengatakan, mahasiswa adalah generasi penerus bangsa, ditangan para pemuda (mahasiswa)-lah masa depan sebuah bangsa (al-hadits), mahasiswa dituntut untuk mampu meng-ejawantahkan pemahaman dan kompetensinya serta ikut serta mengatasi keterpurukan yang tengah dialami bangsa ini. Artinya bahwa, mahasiswa-pun diharapkan peka menanggapi masalah seputar pendidikan, karena pada hakekatnya, mahasiswa adalah jembatan intelektualisme dari pemahaman konsep menuju peng-ejawantahan pada tatanan realitas. Mahasiswa merupakan entitas yang bisa menikmati nikmatnya konsep intelektualisme di tingkat perguruan tinggi.

Oleh karena itu, bukan saatnya lagi bagi mahasiswa untuk bersifat egois. Sekarang saatnya mahasiswa harus memikirkan solusi atas permasalahan di dunia pendidikan ini. Sebagai agent of control, mahasiswa seharusnya menjadi pengamat dan melakukan kontrol terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Sebagai kaum millenials, yang mana di peradaban ini terjadi kemajuan teknologi secara besar-besaran, mahasiswa tidak pantas untuk bersikap apatis dan acuh tak acuh, bahkan terbawa arus hedonisme dan konsumerisme serta menjadi target marketing dan investasi peradaban.

Harapan kedepan, bahwa angan-angan Roem Topatimasang mampu terrealisasikan. Pendidikan di Indonesia yang merata akan menciptakan masyarakat yang teredukasi dan menjadikan Sukardal-Sukardal di masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s