ANDAI DULU AKU TAK CANTIK

           Seandainya hidup itu bisa bernegosiasi, aku tak pernah ingin lahir. Aku, hanya sekelumit cerita kelam dari mereka. Sebut saja aku, Rusmini. Nama ini indah, tapi aku membencinya. Bayangkan saja, ketika aku melintasi pertengahan kampung lalu ibu-ibu sibuk berbisik membicarakanku.

“Hei … itu Rusmini.”

“Oh, iya itu Rusmini.”

“Heh heh … ada Rusmini Rusmini.”

Hanya saja aku berusaha untuk tak menyadarinya. Ya. Mungkin seperti neraka. Api. Panas. Dan itulah hidup bagiku. Sementara disisi lain, kaum lelaki mengumbar hinaan padaku. Lebih busuknya, mereka pakai sebagai bahan candaan.

“Rusmini, sinilah, bisa kau hibur kami?” Demikianlah sampai pada aku membuang batu.

Aku membenci Rusmini. Namaku sendiri. Tapi tidak. Ini lebih parah, Ini tentang hidup. Aku terasingkan. Aku terisolasi.

“Dengar perjakaku, aku tak sudi kau menikah dengan perempuan virusan itu.” Ucap para ibu kepada putranya. Mereka melarang anak mereka menikah denganku, seorang mantan jugun ian fu. Hidupku dirampas tentara jepang. Setelah sekutu menyerang Jepang, maka bubarlah jugun ian fu. Dan dipulangkanlah aku pada kampung halaman. Namun hidupku setelahnya, busuk. Tak ada seorangpun yang berpikir bahwa aku ini hidup. Padahal tak pernah tersiarkan bahwa aku mati. Tapi merekalah yang mematikanku. Mereka, para tentara jepang. Hina, malu, mungkin adalah kata yang tepat saat ini.

“Rusmini, pergi saja kau. Pergi dari kampung ini. Kau itu memalukan. Kami kira kau sudah mati. Eh, ternyata masih ada nyawanya.” kata Opung Karman saat menghampiriku.

“Apa salah saya, Pung?”

“Hahaha ….” opung tertawa lebar. “… dulu, dulu sekali, kau tak ingat apa yang kau lakukan. Hahaha.” Tawa opung meledak. Diam, adalah sikap yang kupilih.

“Dulu kau ini cantik sekali Rus. Aku sadar itu. Dan terkadang aku pun tergoda akan kecantikanmu. Tapi kini, kau kotor.” kata Opung. Aku masih memilih diam. Ingin sekali kutampar mulut Opungku sendiri. Tanganku sudah kukepalkan rapat-rapat. Siap untuk menghajarnya. Tapi ia masih berceloteh menghinaku.

“Andai saja dulu kau tak termakan iming-iming tentara Jepang itu, sudah kulamar kau menjadi istri ketigaku.”

“Kau ini opungku. Sadarlah, pendusta!” bentakku tak karuan.

“Hahaha, bukan, aku bukan opungmu. Kau ini bukan anak kandung mamakmu. Kau hanya anak buangan.” jelasnya. Kala itu, aku tak menyangka pun tak percaya. Aku bukan anak mamakku? “… kau ini cantik. Cerdas. Tapi apa? Kau juga bodoh untuk percaya begitu saja apa kata orang. Apa kau masih percaya bahwa kau akan disekolahkan oleh tentara-tentara itu?” tanyanya menantangku.

“Hah ! Tentara jahanam !” hujamku.

“Bagus …” puji Opung sambil bertepuk tangan. “…kau memang pantas untuk berkata itu. Sudahlah, tak usah menjaga mulutmu agar tetap suci. Dirimu saja, tidak.”

Aku menatap mata Opungku. Mataku membelalak. Lalu aku mengatakan, “Tapi kau lebih jahanam. Kau tahu. Kau adalah satu-satunya orang paling picik yang pernah aku kenal. Kau adalah satu-satunya orang yang mau memperistri keponakannya sendiri. Kau gila!”

“Terserahlah, tapi kau adalah satu-satunya orang paling kotor yang pernah aku kenal.” katanya. Sudah kukepalkan tanganku erat-erat. Siap untuk memhajarnya. Mataku melotot seolah ingin keluar. Nafasku tak beraturan. Dan sesekali aku menyeka air mataku yang mengalir panas. Lalu …..

“Juuuuhhhh!” aku meludahinya.

“Kau ini apa-apaan?!” sembari mengomel, Opung menghapus air ludah itu. Lalu aku berlari pergi, menjauh dari Opung yang masih sibuk menghujatku.

“Akan kubalas perlakuanmu !” hanya itu yang aku dengar dari Opung.

Aku puas. Aku tak menyesal atas itu. Terserahlah mau dibilang tak waras. Tapi meludah menjadi hobbyku.

“Heh itu Rusmini.” bisik tetangga.

“Heh Rus, masih betah hidup? Kau ini wanita jalang. Tak malu?”

“Satu-satunya hal yang paling memalukan adalah kau. Menjijikan.” bentakku pada Rodhiyah, temanku tempo dulu. Setelah itu, aku meludahinya.

“Kau gila? Kenapa meludahiku? Dibayar berapa kau oleh tentara itu untuk meludahiku?”

“Aku dibayar untuk ini…. plaaak!” aku menampar tepat dimulutnya.

“Rus, kau ini cantik. Tapi kelakuanmu itu, memalukan.”

“Sememalukan apa? Aku lebih malu karena aku cantik. Andai dulu aku tak cantik, sekarang aku pasti tak meludahimu.” kataku. Lalu aku mencoreng-corengi wajahku dengan kotoran kerbau yang berada tepat di sandal Rodhiyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s