Paragraf Kosong

PARAGRAF KOSONG

Selalu ada perempuan yang menulis dibawah langit tak berwarna seperti itu.

Terkadang aku ingin bertanya apa yang kusembunyikan tentang diriku pada diriku sendiri. Entah bagaimana aku harus marah pada diriku yang terlalu lancang untuk menjawabnya.

“Kita tak bisa selamanya hanya berdiam disini saja Dan. Kau takut tertangkap? Beranikah kau?” Ingin sekali kutampar mulut bekas pendusta yang berani mempertanyakan keberanianku. Entah keheningan yang keberapa kali ketika aku hanya membisu tak menjawab dan masih meninggalkan pertanyaan yang berdenting di jam dinding yang membatu. Dan entah keheningan yang keberapa kali ketika pertanyaan itu hanya meninggalkan rasa penasaran yang membungkus dalam emosi jiwanya.

Hari ini masih sama seperti kemarin. Dengan jam dinding yang sama, kepucatan rasa yang sama, tempat yang sama, dan pertanyaan yang sama pada waktu yang sama “Beranikah kita?”. Entah darimana kumengetahui waktu, sedang kami hanya mempunyai jam dinding yang membatu. Akan tiba satu waktu dimana aku harus berani menjawab dalam sajak-sajak bisu.

“Dan bagaimana kita akan menyelesaikan ini semua? Dengan lakumu? Dengan dustamu? Atau bahkan dengan bisumu? Kau gila Dan.” Kau tak pantas mempertanyakan itu semua pada diriku. Namun aku hanya menjawab dalam bisikan, “Tidak sekarang.” Kau terlihat ragu seolah tak mendengar.

Lampu kristal yang bergantung di tengah ruang itu hanya menyisakan cahaya yang semakin lama semakin menua. Hanya bisa bersandiwara melihatku beradu pertanyaan pada batinku sendiri.

“Beranikah kita?” Kau tak bosan-bosannya mengulangi pertanyaan yang sama. Lihatlah dirimu sendiri, rambutmu semakin menipis, wajahmu mengeriput, dan kau memucat. Lihat shawl yang kau kenakan. Menjamur. Kita telah banyak membuang waktu disini. Hanya mengukur hidup dengan bertumbuk-tumbuk kopi dalam perut. Tak bosan? Sedang aku hanya seperti roh yang mengamati jalan bercabang diluar.

“Dan bukalah tirainya jika kau ingin melihat dunia luar.” Perkataanmu seperti argumen yang membosankan. Seperti kata yang terjepit diantara lidah dan langit tak berwarna. Sementara kaki kursi yang kududuki, terlilit oleh akar tumbuhan ganas. Sudah lamakah kita berada disini?

Segila inikah dunia? Hingga jalan-jalan semakin menyempit dengan gedung-gedung yang saling berdesakkan tak karuan. Namun kita seolah sudah kebal. Kau kembali menutup pertanyaan pada diriku dengan memesan secangkir kopi baru tanpa bertanya, “Beranikah kita?”

Dimusim hujan tak semuanya basah. Namun sederhana saja, hujan telah mengubah wajahku. Semacam kaca bening, dan mengubah namaku menjadi Langit Biru. Aku bersedia memahaminya. Selama ini kita hanya bisa bercakap dengan datar. Di tikungan ini aku kembali bertabrakan. Namun tak apa.  Kita seperti roh yang dikutuk bergentayangan selamanya.

Hari ini aku melihat kaca bening. Namun kaca bening tetaplah kaca bening. Hingga aku tak terlihat didalamnya. Namun baru kusadari selama ini aku hanya mempertanyakan sesuatu pada diriku sendiri “Beranikah kita?”  Semua yang kupertanyakan hanyalah kata hatiku, dan pada akhirnya hanyalah paragraf kosong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s